Konsep Total Quality Assurance (TQA) dan siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) memiliki akar sejarah yang kuat dalam upaya peningkatan kualitas di berbagai industri. Meskipun sering kali dibahas bersama, keduanya memiliki evolusi yang sedikit berbeda.
Siklus PDCA pertama kali diperkenalkan oleh Walter A. Shewhart, seorang fisikawan dan ahli statistik Amerika, pada tahun 1920-an. Awalnya, ia menggunakan pendekatan ini untuk membantu perusahaan manufaktur meningkatkan kualitas produk melalui pengendalian kualitas statistik. Metode ini dikenal sebagai "siklus Shewhart."
Kemudian, di tahun 1950-an, W. Edwards Deming, seorang ahli statistik dan konsultan manajemen asal Amerika, mempopulerkan siklus ini di Jepang setelah Perang Dunia II. Deming, yang menganggap Shewhart sebagai mentornya, memodifikasi siklus menjadi PDSA (Plan-Do-Study-Act), menekankan pentingnya "Study" (mempelajari) hasil secara lebih mendalam daripada sekadar "Check" (memeriksa). Namun, di Amerika, istilah PDCA lebih banyak dikenal dan digunakan. Kontribusi Deming di Jepang sangat besar, membantu negara tersebut bangkit menjadi kekuatan industri dengan fokus pada kualitas.
Sementara itu, konsep Total Quality Assurance (TQA) atau yang lebih dikenal sebagai Total Quality Management (TQM), berkembang sebagai respons terhadap kebutuhan akan pendekatan kualitas yang lebih komprehensif. TQM bermula di AS selama Perang Dunia II, ketika Deming membantu insinyur dan teknisi menggunakan teori statistik untuk memperbaiki kualitas produksi. Setelah perang, ide-ide ini kurang mendapatkan perhatian di AS, namun diadopsi secara luas di Jepang. TQA atau TQM pada dasarnya adalah filosofi dan budaya organisasi yang berorientasi pada kualitas, mencakup setiap aspek dari produk, jasa, manusia, hingga proses.
Dengan demikian, TQA PDCA adalah perpaduan antara filosofi kualitas menyeluruh (TQA) dengan metodologi sistematis untuk perbaikan berkelanjutan (PDCA), yang keduanya berakar pada pemikiran pelopor kualitas seperti Shewhart dan Deming. (Wira)