Majalah X-MEDIA edisi XXII-2025

Kembali

Artikel
ASN Kini dan Nanti: Refleksi Persepsi, Harapan Publik, dan Jalan Menuju Citra Positif

Dalam perjalanan reformasi birokrasi yang terus bergulir, pertanyaan tentang bagaimana Aparatur Sipil Negara (ASN) dipersepsikan oleh publik dan oleh dirinya sendiri menjadi sangat penting. Apakah keberadaan ASN telah benar-benar menjadi wajah pelayanan publik yang membanggakan? Apakah mereka hadir sebagai motor perubahan yang inovatif, profesional, dan berintegritas? Ataukah masih tertinggal dalam bayang-bayang birokrasi yang lamban, tidak adaptif, dan jauh dari kebutuhan masyarakat?

Sebuah survei yang dilakukan oleh Kantor Regional X BKN Denpasar hingga 3 Juni 2025 mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan melibatkan 469 responden dari tiga kelompok utama yaitu: ASN BKN, ASN dari BKD/BKPSDM wilayah kerja, dan masyarakat umum non-ASN. Survei ini menggambarkan potret persepsi yang kaya dan beragam mengenai sosok ASN hari ini dan gambaran ideal yang diharapkan di masa mendatang. Yang menarik dari hasil survei ini bukan hanya data numerik yang terkumpul, tetapi juga narasi besar yang bisa ditarik darinya: bahwa terdapat semacam jurang antara kenyataan dan harapan, antara persepsi terhadap ASN masa kini dan idealisasi terhadap ASN masa depan. Di sinilah urgensi pembentukan citra positif ASN menemukan konteksnya.

Hasil survei menunjukkan bahwa persepsi publik maupun ASN terhadap citra diri ASN saat ini didominasi oleh kata “melayani”. Kata ini muncul paling tinggi dalam berbagai kelompok responden: 78 kali di kalangan ASN BKN, 21 kali dari masyarakat umum, dan 78 kali pula dari BKD/BKPSDM. Ini tentu menjadi kabar baik. Artinya, nilai pelayanan publik yang menjadi roh utama keberadaan ASN mulai tertanam dan dikenali. Namun, selain “melayani”, muncul juga kata-kata yang menandakan sifat birokratis tradisional seperti “kaku”, “ribet”, “lambat”, dan bahkan “malas” dan “stagnan” yang muncul meskipun dalam jumlah kecil. Kata-kata seperti ini memberi sinyal bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam mewujudkan transformasi budaya kerja ASN yang benar-benar lincah dan berorientasi pada kebutuhan rakyat.

Di sisi lain, ketika responden diminta untuk menggambarkan harapan terhadap ASN masa depan, lanskapnya berubah. Kata-kata seperti “cepat”, “inovatif”, “profesional”, “berintegritas”, dan “adaptif” mulai muncul lebih banyak. Ini menunjukkan bahwa publik dan ASN sendiri mendambakan figur ASN yang tidak hanya melayani secara normatif, tetapi juga cakap secara teknis, responsif secara emosional, serta tangguh dalam menghadapi dinamika zaman. Perbandingan antara persepsi kini dan harapan nanti membuka mata kita bahwa perjalanan ASN menuju citra ideal belumlah selesai. Terdapat celah persepsi yang harus dijembatani melalui aksi nyata, perubahan sistemik, dan pembentukan budaya kerja baru yang berbasis nilai.

Jika kita tilik lebih dalam, responden dari masyarakat umum non-ASN yang hanya berjumlah 12% (57 orang), justru memberikan perspektif yang paling jernih dan tidak bias terhadap kenyataan ASN hari ini. Dari mereka muncul kata-kata seperti “melayani”, “cepat”, “ramah”, namun juga “jadul”, “ribet”, dan “kurang disiplin”. Kata “jadul”, yang secara literal berarti kuno atau ketinggalan zaman menjadi kritik tajam atas cara kerja ASN yang masih dianggap belum selaras dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat modern.

Menariknya, persepsi dari ASN BKN sendiri pun belum sepenuhnya lepas dari kecenderungan birokratis. Meskipun nilai-nilai positif seperti “melayani”, “tanggap”, dan “profesional” mendominasi, masih muncul juga persepsi “kaku” dan “ribet” yang menunjukkan adanya ketidakharmonisan antara niat dan realitas lapangan. Ini membuktikan bahwa transformasi budaya kerja internal menjadi aspek penting yang harus dikuatkan agar perubahan tidak hanya kosmetik, tetapi benar-benar dirasakan dari dalam.

Membangun Citra Positif ASN

Bagaimana cara kita membentuk citra positif ASN yang tidak hanya dipersepsikan publik secara baik, tetapi juga sesuai dengan harapan besar akan birokrasi yang bersih, berdampak, dan melayani?

Pertama-tama, pembentukan citra positif tidak bisa dimulai dari luar. Ia harus bermula dari dalam. ASN harus percaya pada nilai-nilai dasar profesinya: pelayanan, integritas, profesionalisme, dan semangat untuk berinovasi. Jika ASN sendiri tidak bangga akan profesinya, bagaimana mungkin publik akan percaya pada pelayanannya?. Untuk itu, penguatan kapasitas internal ASN sangat penting. Ini tidak hanya soal peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga pembentukan pola pikir yang adaptif dan jiwa kepemimpinan di setiap level birokrasi. ASN harus mampu menjadi problem solver, bukan sekadar pelaksana regulasi. Kedua, perlu ada pemihakan yang nyata terhadap ASN berprestasi dan berintegritas. Sistem merit harus dijalankan secara tegas dan transparan. Promosi dan penghargaan harus didasarkan pada prestasi, bukan koneksi. Setiap ASN harus tahu bahwa kerja keras, disiplin, dan inovasi akan mendapat tempat, dan sebaliknya, perilaku malas, lamban, dan tidak jujur tidak akan diberi ruang.

Ketiga, perluasan ruang keterlibatan publik dalam menilai kinerja ASN juga sangat strategis. Dalam survei ini, jumlah responden non-ASN masih minim. Ke depan, BKN dan instansi pemerintah lainnya bisa mengembangkan platform digital yang memungkinkan masyarakat menilai langsung pengalaman mereka terhadap pelayanan ASN. Evaluasi berbasis pengguna (user-based feedback) akan menjadi cermin yang jujur sekaligus pendorong perbaikan yang otentik. Keempat, ASN perlu terus membudayakan literasi dan komunikasi publik yang baik. Dalam era keterbukaan informasi, ASN tidak cukup hanya bekerja dengan baik, tetapi juga harus bisa mengomunikasikan dengan baik. Menulis, menyampaikan ide, berbicara di ruang publik, memanfaatkan media sosial secara etis,  semua itu menjadi bagian dari upaya membangun persepsi publik yang positif dan inklusif.  Terakhir, sinergi antara sistem dan budaya menjadi kunci sukses. Sistem yang baik tanpa budaya yang mendukung akan lumpuh. Demikian pula budaya kerja yang progresif tidak akan bertahan lama tanpa sistem yang adil dan terbuka. Maka, transformasi ASN ke depan harus bersifat dwilapis: memperbaiki tata kelola dan menanamkan nilai baru secara bersamaan.

Survei ini juga menyisipkan satu pesan yang sangat kuat: "Diperlukan kolaborasi apik antara publik dan ASN, untuk sukses ciptakan birokrasi yang bersih dan berdampak." Pesan ini bukan sekadar penutup, melainkan pembuka arah baru bahwa transformasi ASN tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan dukungan dari masyarakat, kepercayaan dari stakeholder, dan kolaborasi dari berbagai pihak. Kini, ASN memiliki peluang emas untuk memperbaiki wajahnya di mata publik. Dunia sudah berubah, masyarakat semakin kritis, dan birokrasi tidak lagi bisa berlindung di balik meja dan prosedur panjang. ASN masa depan adalah mereka yang hadir, menjawab, dan memberi solusi. Mereka yang tak hanya disiplin waktu, tapi juga disiplin empati. Jika kita ingin Indonesia tumbuh sebagai negara yang maju, maka kita harus mulai dari fondasi dasarnya: ASN. Karena negara ini akan bergerak sejauh para pelayannya melangkah (Ari).

Sebuah gambar berisi teks, cuplikan layar, pakaian, orang Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.

Sebuah gambar berisi teks, cuplikan layar, diagram Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.

Sebuah gambar berisi teks, Wajah manusia, cuplikan layar, kartun Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.